Pejabat Tontonan Rakyat

Jumat, 24 September 2021 | 23:10:51 WIB
Antrean di Pelabuhan Roro di Kabupaten Bengkalis, Riau, yang kerap berulang tiap akhir pekan.

Riauaktual.com - Tepat pukul 14.00 WIB. Panas masih begitu terik. 'Bedengkang' membakar kulit. Juga memanggang emosi ratusan manusia yang berjejalan tak berkutik. 

Itu bukan gambaran akhir zaman, saat alam penilaian Tuhan. Namun, fakta yang dihadapi ratusan pengendara.

Manusia-manusia yang terjebak dalam sistem yang tak kunjung ada perubahan. Oleh para junjungan para pembuat kebijakan

Siang itu di Pelabuhan Roro Sungai Selari, Kota Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau. Antrean kendaraan mengular, memenuhi ruas-ruas jalur yang disediakan. 

Dua, tiga, enam, kendaraan tiba dalam kurun waktu tiap lima menit. Namun, sudah nyaris sejam lamanya, kendaraan yang terlebih dahulu di sana, tak jua berkutik.

Bisa dibayangkan betapa semakin padatnya kendaraan-kendaraan itu. 

Antrean Roro memang bukan persoalan baru.

Beragam janji dan aksi heroik dilakukan pejabat setempat saat eskalasi mulai meningkat.

Semata untuk menenangkan mereka yang terbakar amarah dan mengucurkan keringat kala antrean semakin padat. 

Saat aksi mulai viral, suara meninggi lantang terdengar. Emosi sesaat pejabat setempat menggelegar.

Lantas secepat kilat persoalan kelar. Namun, selang beberapa waktu, persoalan sama kembali terulang. 

Jumat, 24 September 2021, siang itu sekitar pukul 14.30 WIB, peristiwa itu terjadi lagi. Padahal, Ujang telah tiba dua jam sebelumnya, dari Kota Bertuah Pekanbaru, hendak menuju Pulau Terubuk, Bengkalis. Sejak pagi, bayangannya dihantui antrean. Karena sebelum berangkat, koleganya menyebarkan video antrean padat menggila.

Kapal yang bergerak hanya dua, dari empat jadwal normal. Alasannya, rusak. Di akhir pekan pula. 

Padahal, hari ini menjadi kesempatan Ujang yang sulit terulang. Kesempatan langka yang haram untuk dibiarkan sia-sia. 

Seketika, kekhawatirannya jadi nyata kala matanya menyaksikan padatnya kendaraan. 

Di saat antrean semakin panjang, kelelahan mendera hingga melampaui batas kewajaran, perut mulai keroncongan, rasa haus menggerogoti kerongkongan, dan rokok pun tinggal sebatang, tiba-tiba datang rombongan para junjungan. 

Mobil serba hitam, plat merah, berukuran besar, yang biasa digunakan pada saat balap Rally Dakkar, nyelonong langsung tanpa rasa bersalah, apalagi menyesal.

Disaksikan ratusan pasang mata, tanpa dosa mempertontonkan drama. Tak perlulah disebutkan siapa di dalam sana. Mungkin, bagi yang merasa saja.

Ujang, dan sebagian besar pengendara hanya bisa mengelus dada. Sang empu kendaraan pejabat VVIP itu pun pilih diam seribu bahasa. Dingin di dalam Fortuner-nya. Seolah tak terjadi apa-apa. Begitu juga rombongannya, yang ada enam kendaraan serupa mengekorinya. 

Ada yang salah?

Bagi pejabat yang nyelonong itu tentu tidak. Dia bisa saja menjawab, bahwa "Saya harus cepat karena demi rakyat."

Namun bagi seorang emak-emak berbadan gempal yang antre berjam-jam itu geram dengan ulah si empunya bermobil mewah tersebut. 

Dan tentu saja; gerutu, sedikit makian, tambah bumbu cacian, lengkap dengan umpatan mengalir sedap dari mulutnya. Yang sudah jelas tak mungkin terdengar si penumpang mobil, karena kacanya yang hitam legam itu tertutup rapat. Sekali lagi, tak perlulah diungkapkan siapa di dalamnya. 

Ah. Negeri ini memang lucu. Di negeri nun jauh di sana, seharusnya pejabat malu. Kala gagal mempersembahkan kebijakan. 

Mereka tak ragu mengundurkan diri, walau kesalahannya hanya sepanjang kotoran kuku. Karena trah pejabat itu melayani rakyat. 

Namun di sini. Tidak di ibu kota, atau daerah pesisir laut ini, tak mungkin berlaku. Wajar, banyak yang dikorbankan untuk duduk di posisi itu. 

Si Ujang dan emak-emak berbadan gempal, yang entah siapa namanya itu, tak banyak pintanya. Tak perlulah dipimpin sosok hebat para peraih Nobel, yang otaknya encer. 

Tapi jangan pula dipimpin mereka yang manis di kata, miris di aksi nyata. Hanya butuh mereka yang mengerti persoalan kecil.

Toh, keduanya juga harus membeli tiket, untuk dapat menyeberang. Dan yang jual tiket juga, tak pernah mengumbar senyum ramah seperti karyawan toko ritel. "Selamat datang, ada yang bisa dibantu."

Sesampainya di Pulau Terubuk, ternyata penumpukan kendaraan jauh lebih gila.

Saya sangat menunggu, apa jadinya jika hal yang sama. Menerobos tanpa antre, namun, terjadi di pelabuhan Roro seberangnya.

Mungkin akan ada drama akhir pekan yang lebih baik dari sinetron "Ku Menangiiiiiiiissss" itu.  Ditunggu saja.

 

Penulis : Kritikus masakan istri

Terkini

Terpopuler