PEKANBARU (RA) - Perkebunan karet di Riau kian menghadapi masa sulit. Alih fungsi lahan besar-besaran ke komoditas sawit membuat luas kebun karet terus menyusut setiap tahun, demikian disampaikan Plt Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, saat ditemui di kantornya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa masih ada sekitar 400 ribu hektare kebun karet yang bertahan di Riau, dan tetap menjadi sumber penghidupan masyarakat tertentu.
"Memang sudah banyak masyarakat yang beralih ke sawit, makanya luasnya menyusut terus tiap tahun, produksinya juga menurun. Tapi masih ada orang yang bertahan di karet ini," ujar Supriadi, Selasa (6/1/2026).
Supriadi menjelaskan, persoalan paling mendasar adalah banyaknya kebun karet yang berada di dalam kawasan hutan.
Sebagian besar kebun tersebut telah digarap masyarakat secara turun-temurun sejak era 1980-an, saat program pengembangan karet mendominasi sektor perkebunan di Riau.
"Karet ini kan sebetulnya sudah turun-temurun. Tapi kebun-kebun yang sudah digarap sejak dulu itu ternyata masuk dalam kawasan hutan. Penyelesaian untuk kebun karet dalam kawasan ini menjadi masalah yang harus diselesaikan bersama," tegasnya.
Permasalahan legalitas ini membuat petani kesulitan mendapatkan kepastian usaha, akses bantuan, maupun kemitraan industri.
Selain masalah kawasan, hilirisasi juga menjadi tantangan serius. Banyak pabrik karet di Riau yang berhenti beroperasi, termasuk pabrik besar di Kuantan Singingi.
"Sekarang pabrik-pabrik karet di Riau sudah banyak tutup. Jadi masyarakat bertanya, kalau kami produksi karet, kami jual ke mana?" ujar Supriadi.
Untuk mengatasi hal itu, Pemprov bersama masyarakat membentuk sejumlah kelembagaan dan asosiasi pemasaran berbasis lelang. Salah satu yang paling aktif adalah Apkarkusi di Kuansing.
Di bawah bendera Apkarkusi, kelompok tani dihimpun dan harga karet ditentukan melalui sistem lelang mingguan dengan pasar yang menjangkau seluruh Sumatera.
"Dengan sistem ini, harga yang diterima petani lebih baik daripada dijual ke tengkulak," jelas Supriadi.
Model serupa mulai berkembang di Bengkalis, meski masih dalam tahap penguatan. Dia juga berharap ini bisa dijalankan di kabupaten lain di Riau.
Supriadi mengatakan, Riau saat ini masih menjadi produsen karet nomor tiga terbesar di Indonesia. Karena itu, dia berharap masyarakat yang masih setia pada komoditas karet dapat terus dipertahankan keberadaannya.
"Banyak masyarakat yang tidak mau beralih ke sawit karena karet sudah mendarah daging bagi mereka. Ini yang harus kita jaga," katanya.
Ia menegaskan, kebangkitan industri karet tidak bisa hanya bergantung pada petani. Perlu masuknya investor baru di daerah sentra sawit untuk memperkuat kembali industri olahan karet.
"Beberapa koperasi dan Apkarkusi sudah menjalin kemitraan dengan buyer langsung, termasuk pabrik ban seperti GT Radial dan BS. Ini langkah positif," ungkapnya.
Saat ini, tak banyak lagi pabrik pengolahan karet yang masih aktif di Riau. Oleh karena itu, dengan adanya dukungan investasi, penyelesaian masalah kawasan, dan penguatan kelembagaan petani, Supriadi optimistis perkebunan karet Riau dapat kembali menemukan momentumnya.
"Kita berharap ada investor yang mau masuk dan bersama-sama membangkitkan perkebunan karet ini. Potensi Riau masih besar," tutupnya.